“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah”. (Galatia 6:9)
Untuk dapat berbuat baik/kebaikan, hal itu tidaklah mudah kita lakukan. Hal itu sudah dialami Yesus di Taman Getsemani yaitu pada malam terakhir sebelum Ia ditangkap dan disalibkan. Tuhan Yesus dalam usahaNya untuk menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan kekal karena dosa, kutuk, penyakit dan kemiskinan ; Ia harus melewati suatu proses hukuman yang mengerikan sampai Ia mati digantung diatas kayu salib di bukit Golgota. Harus terlahir menjadi manusia yang miskin, Ia harus menderita berbagai macam penderitaan, kesakitan dan penghinaan sampai mati di salib, Ia harus mati tergantung di atas kayu salib dengan jalan menjadi kutuk (Galatia 3:13), dan harus mengorbankan nyawaNya sebagai korban penebus dosa umat manusia.
Di malam itu , Yesus sangat gentar/ketakutan dan hatinya merasa sangat sedih seperti mau mati rasanya. Dalam kitab Injil Lukas 22:34, ditulis bahwa peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ketanah. Betapa hebatnya penderitaan batin Yesus ketika itu, sebab itu Ia berdoa memohon sebanyak tiga kali kepada Allah Bapa di sorga, apakah ada cara lain yang lebih ringan ? (Matius 26:39,42,44) Tetapi, memang tidak ada jalan lain, kecuali mengorbankan nyawaNya dengan mati tergantung diatas kayu salib. Agar dengan demikian oleh anugerahNya/kebaikkanNya dan kasih-Nya, semua orang yang percaya kepadaNya diselamatkan dari kebinasaan/hukuman kekal.
Demikian juga dalam usaha kita untuk berbuat baik dan memberi bantuan bagi orang lain, seringkali kita menghadapi kesulitan dan masalah yang menghadang. Contoh : Di salah satu surat kabar ditulis suatu berita tentang seorang wanita Afganistan yang bekerja sebagi supir taxi di kota Mazari-Sharif. Padahal pertama kalinya ketika dia menjadi supir taxi, dia diancam oleh orang-orang yang tidak dikenalnya bahwa dia akan dibunuh kalau terus bekerja sebagai supir taxi. Di Timur tengah masih berlaku suatu tradisi kuno, yaitu adalah “tabu” bagi wanita Islam kalau mereka bekerja, karena kaum perempuan masih dianggap belum setara dengan kaum pria.
Jadi perempuan dianjurkan agar jangan bekerja diluar rumah.Tetapi dia tetap ingin menolong dan menghidupi kedua orang tuanya, adik perempuannya dan tujuh orang keponakannya, sebab iparnya telah mati dibunuh oleh Taliban. Jadi wanita ini berani mengambil risiko yang demikian beratnya dan juga bahkan dia rela tidak menikah, demi menghidupi mereka plus dua orang anak angkat yang orang tuanya juga mati dibunuh oleh Taliban.
Bagaimana hal nya dengan kita sebagai umat Tuhan Yesus, apakah kita masih tetap mau dengan tidak jemu-jemu/bosan/malas/takut untuk berbuat baik dan memberi bantuan dengan tulus dan dari apa yang ada pada kita ? Meskipun misalnya keadaan ekonomi kita kurang mendukung atau kesehatan kita sedang tidak baik, atau orang yang ditolong tidak tahu berterima kasih/tidak tahu diri…… dan lain-lain ?
Kalaupun ada masalah/kesulitan/ancaman yang sedemikian muncul, maka anggaplah hal itu sebagai suatu ujian bagi ketulusan kita. Cobalah mulai dengan berbuat baik dan memberi bantuan kepada keluarga/saudara atau kawan kita dan saudara kita seiman. Setelah itu kita dapat mulai berbuat baik dan memberi bantuan kepada semua orang.Dengan berhasil melakukan ini, maka tanpa disadari kita telah memberikan suatu persembahan/korban yang berkenan kepada Tuhan, Allah kita. (Ibrani 13:16)
Doa kami:
Tuhan Yesus mampukanlah kami agar tidak jemu-jemu berbuat baik dan memberi bantuan kepada saudara/keluarga/teman dan sesama kami dengan hati yang tulus dan dari apa yang ada pada kami. Amin.

Persekutuan Doa Air Hidup: Pertobatan dan Pemulihan bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, agar mereka bisa menjadi berkat bagi gerejanya dan memberitakan Keselamatan dari Tuhan bagi mereka yang belum percaya kepadaNya.