
"Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang didunia ini dalam segala hal, jangan hanya dihadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan". (Kolose 3:22)
Dalam menjalankan kegiatan/pekerjaan duniawi sehari-hari, seringkali seorang pekerja kristen mengalami konflik, masalah, benturan, dilema dan kesulitan dan lain-lain, pada saat dia mempraktekkan prinsip imannya & melakukan firman Tuhan dalam dunia kerjanya.
Dalam menghadapi kenyataan yang seperti itu, ada banyak pekerja kristen yang menyerah & mengikuti pola duniawi yang berlaku dalam dunia kerjanya, dimana pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa mereka harus membedakan antara "kegiatan/pekerjaan rohani dengan kegiatan/pekerjaan duniawi",karena tidak dapat dicampur-adukan.
Pertanyaannya adalah : Apakah betul bahwa kegiatan/perkerjaan rohani tidak bisa dihubungkan dengan kegiatan/pekerjaan duniawi…?
Kalau pemahamannya seperti itu, maka akan sangat mungkin terjadi bahwa sikap kita dalam melakukan segala kegiatan/pekerjaan duniawi, kita akan menjadi orang duniawi, yang sepenuhnya dikuasai oleh berbagai hawa nafsu kedagingan, pertengkaran, serakah, malas, iri hati, dendam, egois, dusta, tipu, jahat, korupsi, kejam dan lain-lain. Sedangkan kalau dalam melakukan semua kegiatan/pekerjaan rohani, misalnya beribadah, membaca Alkitab,memberitakan Injil, melaksanakan tugas gereja dan lain-lain, kita menjadi orang rohani yang sepenuhnya dikuasai/dipimpin oleh Roh Kudus dan hidup sesuai firman Tuhan. Kita seolah-olah menjadi seperti malaikat di gereja, dan menjadi seperti anak dunia dalam melakukan kegiatan/pekerjaan duniawi.
Padahal Alkitab mengajarkan dalam kitab Roma 12:1-2, bahwa ibadah kita yang sejati adalah keseluruhan diri kita & tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Tuhan. Yaitu dalam melakukan semua kegiatan/pekerjaan rohani maupun dalam melakukan kegiatan/pekerjaan kita di kantor, dalam kegiatan studi kita disekolah, dalam urusan rumah tangga, dalam hal pergaulan/pacaran dan lain-lain.
Atau dengan kata lain, sesungguhnya apa-pun jenis kegiatan/pekerjaan kita, apakah itu kegiatan/pekerjaan rohani ataupun jasmani ; maka kita harus tetap dapat menunjukan kwalitas iman & ibadah kita yang sejati kepada Tuhan. Inilah yang membedakan kita dengan pekerja non kristen yaitu sikap hati, pikiran, tutur kata & perbuatan kita dalam bekerja.
Sangat jelas dikatakan dalam nas tersebut diatas, bagaimana sikap yang dikehendaki Allah dalam hal bekerja, yaitu Kita harus bekerja, seperti seorang hamba/budak yang sedang melayani tuannya. Yaitu sopan, hormat, taat, tulus, jujur, rajin dan menyenangkan hati tuannya. Sebagaimana layaknya seorang budak atau hamba yang sudah menjadi milik/harta pribadi tuannya, dengan tugas utama : taat, tunduk dan melayani tuannya seumur hidupnya.
Mengapa rasul Paulus memakai istilah “hamba/budak (dalam bahasa inggrisnya KJV sevants/slaves=doulos) “? Ini bukan berarti rasul Paulus mendukung adanya “perbudakan”, tetapi dia sedang membangun sikap melayani yang dikehendaki Tuhan dalam hal bekerja.
Firman Tuhan yang disampaikan melalui rasul Paulus, mengatakan : Agar jangan hanya dihadapan mereka saja untuk menyenangkan hati mereka tuannya, melainkan dengan tulus hati… Artinya kita tidak boleh bekerja dengan baik & rajin hanya dengan motivasi mencari muka, menjilat atau munafik dihadapan bos/tuan kita saja, melainkan kita juga harus bekerja dengan motivasi yang sungguh-sungguh, tulus, taat, jujur, rajin dan bertanggungjawab, meskipun tanpa kehadiran mereka.
Dikatakan diatas, bahwa motivasi kita dalam bekerja dengan tulus hati adalah oleh karena "takut akan Tuhan". Apakah maksudnya ?
Maksudnya adalah karena kita ingin menyenangkan hati Tuhan yang kita percayai & kasihi, Allah yang kita sembah. Bukan oleh karena motivasi duniawi lainnya, misalnya : karena bos/tuan kita lemah lembut, tampan/cantik/sexy, sehingga kita jadi rajin bekerja ; atau karena bos/tuan kita itu baik & murah hati, sehingga kita juga mau jadi pegawainya yang baik dan lain-lain.
Masalahnya bos/tuan kita kan manusia juga, bagaimana jikalau nanti bos/tuan kita diganti dengan bos/tuan yang baru, yang galak, buruk rupa & tidak sexy ? Apakah kita masih mau rajin bekerja dengan baik untuknya ? Bagaimana kalau nanti bos/tuan kita itu pelit, tidak adil dan suka menindas pegawainya Apalah kita masih mau jadi pegawainya yang rajin & tulus hati ?
Doa kami :
Tuhan Yesus terima kasih atas firmanMu hari ini, mampukan kami agar dapat mempraktekkan firmanMu ini dalam kegiatan/pekerjaan duniawi, maupun dalam melakukan kegiatan/pekerjaan rohani. Amin.
Persekutuan Doa Air Hidup: Pertobatan dan Pemulihan bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, agar mereka bisa menjadi berkat bagi gerejanya dan memberitakan Keselamatan dari Tuhan bagi mereka yang belum percaya kepadaNya.