“Kasih itu sabar,
kasih itu murah hati, rela menderita. Ia tidak cemburu....., Ia menutupi segala
sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung
segala sesuatu” . (1 Korintus 13:4-7)
Ini adalah suatu
kisah tentang kasih Agape/kasih Allah terhadap semua kita manusia buatan Allah
yg diciptakan dalam Yesus Kritus untuk melakukan perbuatan kasih yg telah dipersiakan
Allah sebelumnya dan Ia mau supaya kita hidup didalamnya. (Efesus 2:10)
Alkisah di India,
istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran. Berapa lama lagi kamu baca
koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk
makan. Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu
tampak ketakutan, air matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi
susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu adalah anak yang manis dan
termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan
curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan
curd rice ada “cooling effect”. Aku mengambil mangkok dan berkata Sindu sayang,
demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti
ibumu akan teriak2 sama ayah. Aku bisa merasakan istriku cemberut di
belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan
tangannya, dan berkata “boleh ayah, akan saya makan curd rice ini tidak hanya
beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan; tapi saya akan minta” agak
ragu2 sejenak “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah
ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?” Aku menjawab “Oh pasti, sayang.”
Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih ayah ?” “Yah, pasti sambil menggenggam
tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.” Sindu juga
mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang
merengek, sambil berkata tanpa emosi, janji”, kata istriku.
Aku sedikit
khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal
yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.” Sindu menjawab : jangan khawatir,
Sindu tidak minta barang2 mahal kok. Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan
kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam
itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan
sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia
mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga
ibuku) tertuju kepadanya.
Ternyata Sindu mau
kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata
permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu
jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2
TV itu sudah merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: Sindu kenapa kamu
tidak minta hal yang lain, kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu
tetap dengan pilihannya, tidak ada ayah, tak ada keinginan lain, kata Sindu.
Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk
mengerti perasaan kami. Sindu dengan menangis berkata : Ayah kan sudah melihat
bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah
berjanji untuk memenuhi permintaan saya.
Kenapa ayah
sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan
pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun,
seperti yg pernah terjadi pada kisah Jefta dalam kitab Hakim-Hakim dizaman
dahulu kala, untuk memenuhi nazarnya kepada Tuhan, Jeta rela memberikan/mempersembahkan
anak perempuan satu-satunya utk diserahkan kepada Tuhan, menjadi biarawati/tidak
pernah kenal laki2. (Hakim-Hakim 11:30-39) Sekarang aku harus memutuskan untuk memenuhi
permintaan anakku : Janji kita harus ditepati. (Ulangan 23:11)
Secara serentak
istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila? “Tidak”, jawabku, kalau kita
menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai
dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi. Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar
dan matanya besar dan bagus.
Hari Senin, aku
mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya
dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian
tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak : Sindu
tolong tunggu saya. Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak. Aku
berpikir mungkin”botak” model jaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya,
tiba2 seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: “Anak anda, Sindu benar2
hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak
saya, dia menderita kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis
tersedu-sedu, “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo
therapy kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut
diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya.
Nah Minggu lalu,
Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang
mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak
menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku
Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan
yang berhati mulia. Kata ibunya Harish.”
Aku berdiri
terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, sudah mengajarkanku tentang kasih.
Ada suatu lagu yg
indah, yg sering aku dengar dalam ibadah di gereja ketika aku masih kecil, yaitu
: Ajarilah kami , Bahasa
kasihMu, agar kami dekat, padaMu Ya Tuhanku.
Kasih itu lemah
lembut, Sabar sederhana, Kasih itu murah hati, Rela menderita
Ajarilah kami ,Bahasa
kasihMu, agar kami dekat, padaMu Ya Tuhanku
Doa kami:
Tuhan Yesus, kami
adalah buatan Allah yg diciptakan dalam Yesus Kristus, mampukanlah kami umatMu
untuk melakukan perbuatan kasih yg telah dipersiapkan Allah sebelumnya
dan supaya kami hidup didalamnya.Amin

Persekutuan Doa Air Hidup: Pertobatan dan Pemulihan bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, agar mereka bisa menjadi berkat bagi gerejanya dan memberitakan Keselamatan dari Tuhan bagi mereka yang belum percaya kepadaNya.