“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,demikianlah firman Tuhan.” (Yesaya 55:8)
Ada suatu kisah yang diambil dari salah satu buku renungan lain, yang disampaikan kepada kami dan kami teruskan disini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Pada abad ke 20, Amerika menjadi suatu benua yang banyak diserbu oleh banyak imigran dari berbagai negara di Eropa, terutama dari Negri Inggris. Ada salah seorang Inggris yang tinggal di suatu kota kecil di Skotlandia, yang bernama Clark Anderson. Dia adalah seorang tukang kayu yang sudah beristri dan mereka mempunyai 9 orang anak. Dia mempunyai mimpi besar untuk menjadi seorang imigran yang sukses di Amerika yaitu suatu negri baru yang indah, subur, makmur dan menawarkan suatu masa depan yang sangat cerah bagi para emigran.
Dengan penuh semangat, Clark dan istrinya bekerja siang malam untuk menabung uang,agar bisa membuat paspor bagi dia dan keluarganya dan terutama uang untuk membayar pesanan tiket kapal pesiar yang akan belayar ke New York, setahun kemudian yaitu pada tahun 1912.
Seluruh keluarganya dipenuhi dengan rasa suka-cita, bukan saja karena harapan mereka akan meraih suatu masa depan yang lebih cerah nanti, tetapi juga karena mereka akan berlayar ke Amerika dengan menggunakan kapal pesiar baru yang sangat besar, aman & mewah.
Namun 7 hari sebelum keberangkatan mereka, putra bungsunya di gigit oleh anjing. Dokter yang menjahit luka anak itu, kemudian menggantungkan selembar label kuning yaitu suatu kertas pengumuman di pintu rumahnya, yang tertulis: “Kemungkinan rabies, semua penghuni rumah ini di karantina selama 14 hari.” Pada saat itu penyakit rabies/anjing gila, dikhawatirkan akan dapat menular di antara manusia.
Sehingga pupuslah sudah mimpi besar dari keluarga Clark untuk dapat ikut berlayar ke Amerika.Clark diam-diam pergi ke dermaga, untuk melihat pelepasan kapal mewah itu, dan dia meneteskan air mata kecewa, marah dan sedih, karena ke-tidak-beruntungan mereka.Dia begitu marah dan membenci anak bungsunya serta pemilik anjing itu, bahkan dia juga marah kepada Tuhan.
Tetapi ada suatu Berita besar yang menghebohkan muncul 5 hari kemudian di seluruh benua Eropa, bahwa kapal mewah yang berlayar ke Amerika tersebut, yang diberi nama Titanic di-kabarkan telah tenggelam, karena menabrak sebuah gunung es dan sebagian besar penumpangnya juga ikut tenggelam didasar lautan yang dingin. Kapal Titanic yang oleh pemiliknya, para perancangnya dan pembuatnya dengan sombongnya, disebut sebagai suatu kapal modern yang “paling aman dan bahkan Tuhan saja tidak akan dapat menenggelamkannya”; ternyata sekarang sudah tenggelam dan menelan korban jiwa sebanyak lebih dari 1.500 orang.
Tetapi bagi Clark dan keluarganya ketika mereka mendengar berita itu, maka duka-cita dan semua keluh kesah mereka langsung sirna, sebaliknya mereka jadi sangat bersyukur kepada Tuhan. Terutama Clark yang sangat bersyukur kepada Tuhan dan memohon ampun kepadaNya atas kesalahannya yang telah marah dan menyalahkan Tuhan atas hal ini. Dia sadar dan mengakui bahwa rencana Tuhan-lah selalu yang terbaik, yaitu bukanlah rencana kecelakaan, tetapi rencana damai sejahtera untuk memberikan kepadanya hari depan yang penuh dengan harapan . (Yeremia 29:11)
Jadi walaupun kita mengalami kegagalan yang mengecewakan kita dalam suatu hal, janganlah hal ini membuat kita menjadi kecil hati atau marah kepada Tuhan. Melainkan tetaplah percaya kepada Tuhan dan carilah serta mendekatlah kepada Tuhan senantiasa, maka kita pasti akan dapat melihat dan menikmati rencana Tuhan yang indah bagi kita, dalam suatu kesempatan dan waktu yang lain.
Doa kami:
Tuhan Yesus, ajarlah kami menerima bahwa RencanaMu dan JalanMu bukanlah rencana dan jalan kami. Kami mau sungguh percaya bahwa rencanaMu dan jalanMu adalah yang terbaik bagi kami. Amin.

Persekutuan Doa Air Hidup: Pertobatan dan Pemulihan bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, agar mereka bisa menjadi berkat bagi gerejanya dan memberitakan Keselamatan dari Tuhan bagi mereka yang belum percaya kepadaNya.