"Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: Beginilah firman Tuhan : Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati dan tidak sembuh lagi". (2 Raja-Raja 20:1)Pada waktu raja Hizkia mendengar firman Tuhan melalui nabi Yesaya bahwa dia akan mati dan tidak sembuh lagi, ternyata bukannya Hizkia segera bersiap-siap memberikan pesan-pesan terakhir kepada keluarganya seperti yang dikatakan Tuhan kepadanya melalui nabi Yesaya, melainkan dia berdoa dan protes kepada Tuhan bahwa dia sudah hidup dengan setia dihadapan Tuhan dan dengan tulus hati telah melakukan apa yang baik dimata Tuhan, kenapa harus mati ?
Lalu menangislah Hizkia dengan sangat, ia menyesali kenapa "koq" ia mesti mati begini cepat ? Rupanya raja Hizkia masih belum puas, ia masih ingin menikmati kehidupannya yang makmur, kaya raya dan dimuliakan di dunia ini, karena keadaan kerajaan Yehuda sekarang sudah damai, aman dan bebas dari serangan raja Asyur.
Kemudian Tuhan mengabulkan permintaan Hizkia itu dan Tuhan menyembuhkannya dengan ajaib dan hidupnya diperpanjang Tuhan 15 tahun lagi. Tetapi tenyata setelah ia disembuhkan Tuhan dari sakitnya, raja Hizkia tidaklah hidup lebih dekat dengan Tuhan dan menyenangkan hatiNya, tapi dia bersenang-senang dan hidup penuh keduniawian, menjadi sombong/angkuh dan tidak berterima kasih atas kebaikkan yang ditunjukkan Tuhan kepadanya.(2 Tawarikh 32:24-31).
Sehingga akibatnya kerajaan Yehuda ditimpa murka Tuhan, meskipun murka Tuhan tersebut tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia. Akibat reaksi hidup raja Hizkia yang penuh dengan pemuasan hawa nafsu kedagingan dan keduniawian ini, maka dikemudian hari kerajaan Yehuda dan Yerusalem akan hancur lebur dan dikalahkan oleh kerajaan Babel. Semua keluarganya serta rakyatnya menderita sengsara, banyak yang mati dibunuh dan sisanya ditawan ke negeri Babel.
Reaksi raja Hizkia ini bertolak-belakang dengan apa yang dilakukan oleh seorang perancang mode Indonesia terkenal yaitu Ramli. Sewaktu ia divonis dokter bahwa ia terkena penyakit kanker yang tidak tersembuhkan, Ramli memang menangis sedih.
Reaksinya sungguh sangat berbeda dengan raja Hizkia, setelah menerima vonis terkena penyakit kanker, Ramli malah berusaha bersiap-siap dengan hidup lebih mendekat kepada Tuhan dan berusaha hidup lebih baik lagi dalam kesehariannya dihadapan Tuhan. Dahulu ketika Ramli masih muda, hidupnya yang selalu bersenang-senang dan orientasi hidupnya yang sangat duniawi sekali ; tapi sekarang ia segera bangkit, sadar, bertobat dan bersyukur kepada Tuhan, karena telah diberi "warning" (peringatan dini) berupa penyakit terlebih dahulu, sehingga ia dapat bersiap-siap apabila dipanggil Tuhan nanti.
Ia persamakan bersiap-siap menghadapi kematian, adalah seperti orang yang mau traveling (berpergian dalam perjalanan), harus bawa ini dan itu. Begitu juga ia menyambut kematian, dengan lebih banyak berdoa menurut kepercayaannya, merenungkan firman Tuhan dan melakukannya, hidup lebih berkenan kepada Tuhan dan memberikan pesan-pesan terakhir kepada keluarganya, mempersiapkan tempat kuburannya nanti ditempat yang dia inginkan dan sebagainya.(Baca kisahnya di koran Kompas tgl 15 januari 2012).
Bagaimana dengan reaksi kita seandainya kita mendengar vonis kematian seperti itu, ketika hal itu disampaikan kepada kita melalui dokter atau melalui hamba Tuhan ? Apakah kita mau bereaksi seperti raja Hizkia atau seperti Ramli perancang mode terkenal itu ?
Perlu kita ingat bahwa masa hidup kita didunia ini hanya sebentar saja yaitu 70 th dan kalau kuat 80 th. Dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan. Waktu hidup kita berlalu sangat cepat dan tahu-tahu kita sudah melayang lenyap dari dunia ini alias mati. Untuk itu nabi Musa meminta kepada Tuhan supaya diajari menghitung hari-hari hidupnya sedemikian, sehingga ia beroleh hati yang bijaksana dalam menjalani hidupnya supaya berkenan kepada Tuhan.(Mazmur 90:10-12)
Semasa muda kita boleh saja bersenang-senang dan menimati keduniawiaan, tetapi ingatlah bahwa semua perbuatan kita itu, entah itu baik atau jahat akan dibawa ke pengadilan Tuhan. Jadi sangatlah perlu kita ingat akan Tuhan, sebelum tiba hari-hari yang malang dan susah, yaitu dimasa tua kita atau menjelang kita dipanggil Tuhan pada hari-hari terakhir nanti. Kita perlu awali hidup kita ini dengan penuh takut akan Tuhan, karena itu adalah kewajiban setiap kita, sehingga nanti kalau kita dipanggil Tuhan kita sudah bersiap-siap menghadap Tuhan seperti yang diinginkanNya.(Pengkhotbah 11:9; 12:1-8,13-14)
Doa kami:
Tuhan Yesus yang baik, ajarlah kami menghitung hari-hari, agar kami beroleh hati yang bijaksana, dan kami bisa menjalani hidup ini dengan lebih berkenan kepadaMu. Amin
Lalu menangislah Hizkia dengan sangat, ia menyesali kenapa "koq" ia mesti mati begini cepat ? Rupanya raja Hizkia masih belum puas, ia masih ingin menikmati kehidupannya yang makmur, kaya raya dan dimuliakan di dunia ini, karena keadaan kerajaan Yehuda sekarang sudah damai, aman dan bebas dari serangan raja Asyur.
Kemudian Tuhan mengabulkan permintaan Hizkia itu dan Tuhan menyembuhkannya dengan ajaib dan hidupnya diperpanjang Tuhan 15 tahun lagi. Tetapi tenyata setelah ia disembuhkan Tuhan dari sakitnya, raja Hizkia tidaklah hidup lebih dekat dengan Tuhan dan menyenangkan hatiNya, tapi dia bersenang-senang dan hidup penuh keduniawian, menjadi sombong/angkuh dan tidak berterima kasih atas kebaikkan yang ditunjukkan Tuhan kepadanya.(2 Tawarikh 32:24-31).
Sehingga akibatnya kerajaan Yehuda ditimpa murka Tuhan, meskipun murka Tuhan tersebut tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia. Akibat reaksi hidup raja Hizkia yang penuh dengan pemuasan hawa nafsu kedagingan dan keduniawian ini, maka dikemudian hari kerajaan Yehuda dan Yerusalem akan hancur lebur dan dikalahkan oleh kerajaan Babel. Semua keluarganya serta rakyatnya menderita sengsara, banyak yang mati dibunuh dan sisanya ditawan ke negeri Babel.
Reaksi raja Hizkia ini bertolak-belakang dengan apa yang dilakukan oleh seorang perancang mode Indonesia terkenal yaitu Ramli. Sewaktu ia divonis dokter bahwa ia terkena penyakit kanker yang tidak tersembuhkan, Ramli memang menangis sedih.
Reaksinya sungguh sangat berbeda dengan raja Hizkia, setelah menerima vonis terkena penyakit kanker, Ramli malah berusaha bersiap-siap dengan hidup lebih mendekat kepada Tuhan dan berusaha hidup lebih baik lagi dalam kesehariannya dihadapan Tuhan. Dahulu ketika Ramli masih muda, hidupnya yang selalu bersenang-senang dan orientasi hidupnya yang sangat duniawi sekali ; tapi sekarang ia segera bangkit, sadar, bertobat dan bersyukur kepada Tuhan, karena telah diberi "warning" (peringatan dini) berupa penyakit terlebih dahulu, sehingga ia dapat bersiap-siap apabila dipanggil Tuhan nanti.
Ia persamakan bersiap-siap menghadapi kematian, adalah seperti orang yang mau traveling (berpergian dalam perjalanan), harus bawa ini dan itu. Begitu juga ia menyambut kematian, dengan lebih banyak berdoa menurut kepercayaannya, merenungkan firman Tuhan dan melakukannya, hidup lebih berkenan kepada Tuhan dan memberikan pesan-pesan terakhir kepada keluarganya, mempersiapkan tempat kuburannya nanti ditempat yang dia inginkan dan sebagainya.(Baca kisahnya di koran Kompas tgl 15 januari 2012).
Bagaimana dengan reaksi kita seandainya kita mendengar vonis kematian seperti itu, ketika hal itu disampaikan kepada kita melalui dokter atau melalui hamba Tuhan ? Apakah kita mau bereaksi seperti raja Hizkia atau seperti Ramli perancang mode terkenal itu ?
Perlu kita ingat bahwa masa hidup kita didunia ini hanya sebentar saja yaitu 70 th dan kalau kuat 80 th. Dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan. Waktu hidup kita berlalu sangat cepat dan tahu-tahu kita sudah melayang lenyap dari dunia ini alias mati. Untuk itu nabi Musa meminta kepada Tuhan supaya diajari menghitung hari-hari hidupnya sedemikian, sehingga ia beroleh hati yang bijaksana dalam menjalani hidupnya supaya berkenan kepada Tuhan.(Mazmur 90:10-12)
Semasa muda kita boleh saja bersenang-senang dan menimati keduniawiaan, tetapi ingatlah bahwa semua perbuatan kita itu, entah itu baik atau jahat akan dibawa ke pengadilan Tuhan. Jadi sangatlah perlu kita ingat akan Tuhan, sebelum tiba hari-hari yang malang dan susah, yaitu dimasa tua kita atau menjelang kita dipanggil Tuhan pada hari-hari terakhir nanti. Kita perlu awali hidup kita ini dengan penuh takut akan Tuhan, karena itu adalah kewajiban setiap kita, sehingga nanti kalau kita dipanggil Tuhan kita sudah bersiap-siap menghadap Tuhan seperti yang diinginkanNya.(Pengkhotbah 11:9; 12:1-8,13-14)
Doa kami:
Tuhan Yesus yang baik, ajarlah kami menghitung hari-hari, agar kami beroleh hati yang bijaksana, dan kami bisa menjalani hidup ini dengan lebih berkenan kepadaMu. Amin
Persekutuan Doa Air Hidup: Pertobatan dan Pemulihan bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, agar mereka bisa menjadi berkat bagi gerejanya dan memberitakan Keselamatan dari Tuhan bagi mereka yang belum percaya kepadaNya.