"Katanya: Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!".(Ayub 1: 21)Alkisah ketika Sidharta Gautama dari India melihat keadaan diluar istana, dia menyaksikan banyak penderitan manusia. Timbullah dalam pikirannya pertanyaan kenapa semua hal yang menyedihkan itu harus terjadi, maka dia ber-meditasi dibawah pohon Bodhi dan mendapatkan pencerahan.
Semua orang sebetulnya menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah titipan Allah. Tidak ada barang sesuatupun di dunia dan alam semesta ini yang kekal sifatnya, kecuali firman Allah itu sendiri.(Matius 24:35)
Termasuk kita sebagai pengikut Kristus tentunya juga mengerti bahwasanya yang namanya hidup didunia ini, tidaklah lepas dari penderitaan dan kehilangan. Namun banyak dari antara kita yang lupa dan tidak dapat menerima kenyataan ini, sehingga mereka sangat bersedih bahkan mengutuki Allah atas kehilangan harta benda, nama baik, atau bila ada anggota keluarga yang dicintai dipanggil Tuhan.
Untuk itu, kita perlu belajar dari Ayub dalam menyikapi penderitaan dan kehilangan tersebut. Meskipun sangat berat penderitaannya (Ayub pasal 1 dan 2), Ayub tahan uji dan teguh percaya kepada Tuhan dan janji-janjiNya. Ia tetap berkata benar tentang Allah ditengah kesedihan dan penderitaannya yang sangat berat. Itulah sebabnya Allah memulihkannya dan memuliakannya dengan sangat luar biasa, lebih daripada keadaannya sebelumnya.(Ayub 42:10-16)
Marilah kita belajar mengucap syukur dan bisa merelakannya apabila hal-hal seperti itu terjadi menimpa kita, misalnya kehilangan orang yang kita cintai, menderita sakit penyakit, ditimpa malapetaka, kehilangan harta-benda, dan sebagainya. Tuhan akan memampukan kita, sehingga kita akan dapat berkata seperti Ayub: Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan !
Tuhan Yesus telah memberikan teladanNya bagi kita, supaya kita sebagai pengikutNya mengikuti jejakNya yaitu Ia telah menderita penderitaan badani bagi kita, maka kita juga harus mempersenjatai diri kita dengan pikiran yang demikian.
Karena penderitaan itu akan mengingatkan kita akan kesalahan kita, sehingga kita dapat bertobat dan juga mengingatkan kita akan sebab-akibat, yaitu bahwa penderitaan itu biasanya terjadi karena ada hubungannya dengan hal masa lalu.
Dengan demikian kalau kita sudah menderita penderitaan badani, kita telah berhenti berbuat dosa. Sehingga waktu kita yang tersisa, tidaklah kita pergunakan menurut keinginan manusia daging kita lagi, tetapi menurut kehendak Allah (1 Petrus 2:21 dan 1 Petrus 4:1-2)
Maka walaupun dalam keadaan menderita dan menyedihkan seperti itu, pikiran dan hati kita bisa sedikit tenang dan lega, dan tidak kehilangan kebahagiaan dan damai sejahtera dalam Kristus Yesus.
Doa kami:
Tuhan Yesus, kami mau mengikuti teladanMu dengan melakukan pekerjaan baik dan dalam kebenaran, meskipun untuk semuanya itu kami harus menderita. Dan hal itu akan menjadi kasih karunia bagi Allah. Amin
Semua orang sebetulnya menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah titipan Allah. Tidak ada barang sesuatupun di dunia dan alam semesta ini yang kekal sifatnya, kecuali firman Allah itu sendiri.(Matius 24:35)
Termasuk kita sebagai pengikut Kristus tentunya juga mengerti bahwasanya yang namanya hidup didunia ini, tidaklah lepas dari penderitaan dan kehilangan. Namun banyak dari antara kita yang lupa dan tidak dapat menerima kenyataan ini, sehingga mereka sangat bersedih bahkan mengutuki Allah atas kehilangan harta benda, nama baik, atau bila ada anggota keluarga yang dicintai dipanggil Tuhan.
Untuk itu, kita perlu belajar dari Ayub dalam menyikapi penderitaan dan kehilangan tersebut. Meskipun sangat berat penderitaannya (Ayub pasal 1 dan 2), Ayub tahan uji dan teguh percaya kepada Tuhan dan janji-janjiNya. Ia tetap berkata benar tentang Allah ditengah kesedihan dan penderitaannya yang sangat berat. Itulah sebabnya Allah memulihkannya dan memuliakannya dengan sangat luar biasa, lebih daripada keadaannya sebelumnya.(Ayub 42:10-16)
Marilah kita belajar mengucap syukur dan bisa merelakannya apabila hal-hal seperti itu terjadi menimpa kita, misalnya kehilangan orang yang kita cintai, menderita sakit penyakit, ditimpa malapetaka, kehilangan harta-benda, dan sebagainya. Tuhan akan memampukan kita, sehingga kita akan dapat berkata seperti Ayub: Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan !
Tuhan Yesus telah memberikan teladanNya bagi kita, supaya kita sebagai pengikutNya mengikuti jejakNya yaitu Ia telah menderita penderitaan badani bagi kita, maka kita juga harus mempersenjatai diri kita dengan pikiran yang demikian.
Karena penderitaan itu akan mengingatkan kita akan kesalahan kita, sehingga kita dapat bertobat dan juga mengingatkan kita akan sebab-akibat, yaitu bahwa penderitaan itu biasanya terjadi karena ada hubungannya dengan hal masa lalu.
Dengan demikian kalau kita sudah menderita penderitaan badani, kita telah berhenti berbuat dosa. Sehingga waktu kita yang tersisa, tidaklah kita pergunakan menurut keinginan manusia daging kita lagi, tetapi menurut kehendak Allah (1 Petrus 2:21 dan 1 Petrus 4:1-2)
Maka walaupun dalam keadaan menderita dan menyedihkan seperti itu, pikiran dan hati kita bisa sedikit tenang dan lega, dan tidak kehilangan kebahagiaan dan damai sejahtera dalam Kristus Yesus.
Doa kami:
Tuhan Yesus, kami mau mengikuti teladanMu dengan melakukan pekerjaan baik dan dalam kebenaran, meskipun untuk semuanya itu kami harus menderita. Dan hal itu akan menjadi kasih karunia bagi Allah. Amin
Persekutuan Doa Air Hidup: Pertobatan dan Pemulihan bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, agar mereka bisa menjadi berkat bagi gerejanya dan memberitakan Keselamatan dari Tuhan bagi mereka yang belum percaya kepadaNya.
Merasa kehilangan pada sesuatu karena kelekatan kita padanya.Sesuatu itu bisa barang bisa pula orang.Jadi hindari terlalu melekat agar tidak sakit dan menderita karena kehilanga.