Jumat, 14 Maret 2014

Renungan, 14 Maret 2014

"Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau dia tidak kaya dihadapan Allah". (Lukas 12:21)
 
Dalam kisah nas tersebut diatas, setelah berhasil mengumpulkan harta & uang yang banyak maka orang kaya itu bermaksud untuk pensiun sambil menikmati harta kekayaan duniawi yang telah dikumpulkannya. Tetapi Tuhan katakan : Hai kamu orang bodoh, pada malam ini juga jiwa kamu diambil daripadamu, dan apa yang kau sediakan dan kumpukan, untuk siapakah itu nanti ?
 
Jikalau kita tidak kaya dihadapan Allah, maksudnya adalah jikalau semasa hidup dibumi, kita hanya mementingkan kepentingan diri sendiri, makan minum, pesta pora dan ber-senang-senang sendiri, dan tidak memperdulikan kepentingan sesamanya (Lukas 12:19-20), maka  itu artinya kita miskin dihadapan Allah. Akibatnya pada suatu saat nanti yang tidak kita duga-duga, jiwa kita dapat diambil daripada kita ; sehingga semua uang & harta dunia yang telah kita kumpulkan di bumi itu, tidaklah dapat kita nikmati. Semuanya itu harus ditingalkan di bumi dan tidak bisa kita bawa/nikmati di akhirat.
 
Demikian juga ada sebuah kisah nyata sebagai berikut :
Ada sebuah desa yang jumlah penduduknya tidak terlalu banyak. Mereka semuanya adalah orang kristen, tetapi lama sekali tidak mempunyai gedung gereja di desanya. Setiap hari minggu, mereka mengadakan ibadah dari rumah ke rumah secara berkeliling. Yang menarik dalam situasi seperti itu, adalah mereka semua tidak ada mengeluh, malahan sebaliknya mereka berkumpul, berdoa, dan beribadah dengan suka-cita bersama dengan semua anggota keluarga mereka masing-masing.
 
Seiring dengan berjalanannya waktu, ada beberapa diantara mereka merindukan adanya sebuah gedung gereja didesa tersebut. Sebab mereka melihat di televisi bahwa orang-orang di kota beribadah di gedung-gedung gereja. Dan oleh karenanya, mereka ingin menurutinya dan membentuk suatu panitia pembangunan gereja. Tidak lama kemudian, mereka berhasil mengumpulkan uang melalui persembahan dan sumbangan suka-rela; sehingga mereka dapat membeli sebidang tanah 400 meter. Tetapi walaupun mereka sudah memiliki tanah, namun tidak dapat membangunnya karena kekurangan dana.
 
Singkat cerita, Panitia pembangunan menyelenggarakan suatu acara malam dana. Dan ada seorang pengusaha kristen yang datang pada acara tersebut dan memberikan  sumbangan sebesar rp 100 juta  dalam bentuk cek pada saat itu juga. Dan semua anggota Panitia pembangunan menjadi gembira, sebab mereka berpikir bahwa mereka sudah berhasil mengumpulkan uang untuk membangun gedung gereja yang sederhana.
 
Tetapi pada hari berikutnya, si pengusaha mendengarkan kabar dari manajer perusahaannya bahwa salah satu kapalnya terkena musibah di laut, tenggelam diterjang badai. Tentunya hal ini sangat berpengaruh pada bisnisnya, untuk itu si pengusaha berkata kepada Panitia pembangunan : Maaf saya harus mengganti cek yang sudah saya berikan kemarin, apakah boleh saya menukarnya dengan yang baru…? Ketua panitia menjawabnya: Ya boleh pak ! sebab dalam hatinya dia berharap bahwa ceknya akan diganti yang baru dengan jumlah yang lebih besar. Tetapi ketika cek yang baru diterimanya kembali, ternyata jumlah uang yang tertera dalam cek yang baru, hanya tertulis rp 100 ribu rupiah saja. Lalu ketua Pantia Pembangunan menjadi bingung dan berkata : Lho, pak, apakah tidak salah tulis jumlahnya…? Lalu si pengusaha bilang : Tidak pak, saya tidak salah tulis.
 
Kemudian semua anggota Panita pembangunan menangis sedih dan penuh dengan kekecewaan, karena mereka tadinya mengharapkan uang yang lebih banyak untuk dapat membangun sebuah gedung gereja.
 
Pelajaran penting bagi kita melalui kisah ini adalah “Jangan menggantungkan harapan kita “ pada harta duniawi, tetapi arahkan hati kita pada harta sorgawi. Harta duniawi memang kita perlukan, tetapi hal itu janganlah sampai menggeser hati kita dari pada harta sorgawi yaitu nmisalnya : saling mengasihi & memperhatikan, tolong menolong, bergembira & menikmati persekutuan yang indah bersama Tuhan dengan berkumpul, berdoa dan beribadah kepada Tuhan di rumah-rumah jemaat secara bergiliran, bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga mereka masing-masing dan lain-lain. 
 
Doa kami:
Tuhan Yesus, ajarlah kami memahami dengan baik rencanaMu  dalam harta dunia ini. Amin.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar