"Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Yesus Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya". (Efesus 5:25)
Ada suatu kisah pendek yang dikirimkan oleh Bapak Hendrikus Chandra melalui face book pd air hidup, dengan judul "Ketika kemudahan hidup ada didepanku".
Ada seorang wanita, sebut saja namanya Desi. Dia sudah menikah selama 5 tahun dengan Rudi. Namun hidup mereka dari bulan ke bulan serba pas-pas-an, sebab gaji suaminya tidak besar, dan hanya cukup untuk pembayaran rutin sehari-hari & bulanan saja. Pada awalnya masalah ekonomi keuarga ini selalu menjadi pertengkaran mereka, namun kemudian Desi belajar untuk menerima & mengerti keadaan suaminya, sebab tidak mungkin dia meminta suaminya untuk mencuri atau berbuat hal-hal yang tidak benar.
Pada suatu hari, Desi bertemu dengan Herman ex pacarnya yang lama. Sekarang Herman berbeda dengan keadaannya yang dulu sekitar 10 tahun yang lalu. Dia sudah menjadi pengusaha yang mapan, berhasil, kaya raya dan juga sudah berkeluarga, mempunyai istri dan seorang anak laki-laki.
Rupanya Herman masih mencintai Desi. Setelah beberapa kali mereka bertemu, Herman mengetahui keadaan keuangan rumah tangga Desi, lalu memberikan Desi bantuan berupa uang yang jumlahnya mencapai 4 x lipat gaji suaminya Rudi, tetapi Desi menolaknya.
Dalam beberapa pertemuan berikutnya, akhirnya Herman menyatakan cintanya lagi kepada Desi dan mengajaknya untuk menikah dengannya. Herman rela meninggalkan istrinya dan anak nya dan semua harta kekayaannya demi menikah kembali dengan Desi. Dalam hatinya Desi berpikir : Mengapa harus menolak Herman, dia kan seorang pengusaha yang berhasil, kaya dan mencintainya, betapa bodohnya kalau saya menolak Herman. Inilah saatnya untuk keluar dari kesulitan ekonomi rumah tangga.
Tetapi setelah berpikir lagi sekian lama, lalu Desi berkata : Dulu saya memilih Rudi & menikah dengannya, sebab saya mencintai Rudi lebih daripada mencintaimu. Lalu jawab Herman : Itu benar, tetapi sekarang saya kan bisa membahagiakan kamu, dan membelikan apa yang kamu mau. Lalu jawab Desi : Seandainya sekarang saya menikah denganmu, maka hal itu bukanlah karena saya mencintaimu, melainkan saya ingin lepas dari kesulitan ekonomi dan menginginkan kemudahan hidup dari kamu.
Meskipun Herman bersikukuh untuk tetap mengajak Desi menikah dengan dia, tetapi Desi tetap menolaknya. Sebab Desi tidaklah mungkin bisa hidup berbahagia dengan Herman yang tidak dicintainya. Dan hidup perkawinannya dengan Herman nanti, akan lebih tidak bahagia lagi jika dibandingkan hidup perkawinannya sekarang dengan Rudi.
Lalu Desi berkata kepada Herman : Sekarang saja kamu mau menceraikan & meninggal istrimu, anakmu dan semua hartamu, demi menikah dengan saya. Bukankah artinya hidup perkawinanmu yang sekarang tidak berbahagia. Demikian juga nantinya yang akan terjadi dengan saya. Sejak hari itu, Desi memutuskan untuk tidak bertemu dengan Herman lagi. Dan sekarang Desi belajar untuk lebih mensyukuri Rudi pasangan hidupnya dengan segala kelebihan & kekurangannya.
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah pendek ini, bahwa "kasih/cinta adalah dasar yang langgeng & bahagia untuk keutuhan sebuah rumah tangga, terutama daripada rumah tangga anak-anak Tuhan".
Apalagi jikalau cinta/kasih kita kepada pasangan hidup dalam suatu perkawinan, dasarnya adalah kasih agape yaitu kasih/cinta yang tulus & rela berkorban, dan bukan kasih/cinta eros atau cinta brotherhood/persaudaraan. Sebab dengan demikian Tuhan sendirilah yang akan hadir dalam kehidupan perkawinan dan rumah tangga kita, sebab Tuhan adalah "kasih agape". (1 Yohanes 4:8,16) Sehingga dalam menghadapi segala masalah, kesulitan & badai hidup dalam perkawinan, maka Tuhanlah yang akan campur tangan, menolong & memberikan kita kekuatan & jalan keluarnya, sehingga kita dapat menanggungnya, dan perkawinan kita akan tetap utuh dan bahagia.
Oleh sebab itu Tuhan katakan : Hai suami kasihilah isterimu, sebagaimana Yesus Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya, dan janganlah berlaku kasar terhadap isterimu. (Efesus 5:25 dan Kolose 3:16) Dan sebaliknya : Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, dan isteri hendaklah menghormati suaminya. (Efesus 5:22, 5:33)
Janganlah kita sebagai umat Tuhan, mau menikah dengan seseorang oleh karena alasan lain selain kasih/cinta agape, sebab hal itu bukanlah merupakan suatu dasar yang langgeng & bahagia bagi suatu hidup perkawinan. Misalnya : Kita menikah dengan seseorang, oleh karena calon suami atau isteri kita itu adalah orang yang sudah mapan dan kaya raya, atau karena calon pasangan kita adalah orang yang terkenal dan tampan/cantik dan lain-lain. Sebab hal-hal itu tidak-lah akan membuat Tuhan hadir dalam hidup perkawinan kita.
Doa kami :
Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk dapat menjadi pasangan suami & isteri yang ilahi, kudus dan menyenangkan hatiMu atas dasar kasih. Amin.
Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk dapat menjadi pasangan suami & isteri yang ilahi, kudus dan menyenangkan hatiMu atas dasar kasih. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar