"Pada mulanya adalah Firman ; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya, sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran ". (Yohanes 1:1,14)Sepanjang bulan Desember, setiap tahun, biasanya orang kristen merayakan kelahiran Yesus Kristus yang datang kedunia untuk menyelamatkan umat manusia. Nah, Kalau kita merayakan Natal pada bulan dan tanggal tertentu, bukan berarti tepat saat itu kita merayakan kelahiran Yesus; sebab tidak ada yang tahu saat tepatnya kapan, bulan dan tanggal berapa Yesus lahir. Oleh karena itu, kalau kita merayakan Natal, hal ini menunjukkan bahwa Yesus pernah lahir didunia ini dan lahir dalam hati kita. Sehingga kapan pun dan dimana pun kita dapat merayakan Natal, sedangkan masalah tempat dan waktunya tidak jadi masalah.
Renungan kita hari ini adalah menjelaskan bahwa Allah telah menjadi manusia. Mengapa Allah harus menjadi manusia ?Jawabannya adalah karena sejak awalnya manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Tetapi rupa Allah dalam diri manusia itu telah menjadi rusak akibat dosa, dan Allah hendak memperbaikinya kembali dan memberikan gambarNya yang benar melalui Yesus Kristus. Inilah alasannya, mengapa Allah harus menjadi manusia, menderita dan rela mati disalib untuk menebus dosa manusia. Bukankah hal ini yang kita syukuri setiap kali kita merayakan Natal…?
Melalui renungan kita hari ini ada 3 hal yang perlu kita renungkan bersama.
Pertama. Natal adalah Allah telah menjadi manusia. Natal adalah panggilan bagi kita untuk menjadi manusia Allah ; tidak lebih dan tidak kurang dari itu. Kalau lebih dari itu, maka manusia akan cenderung ingin menyamai Allah dan kalau kurang dari itu, maka manusia akan cenderung menjadi seperti binatang sifatnya. Dalam 1 Timotius 6 : 11 disebutkan : ”Hai manusia Allah jauhilah semuanya itu . . . “. Artinya manusia yang telah merayakan Natal adalah manusia Allah yang tidak ingin lagi mengasihi dunia dan apa yang ada didalamnya yaitu keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. (1Yohanes 2 : 15-17) Oleh karena itu, orang yang telah merayakan Natal, mereka akan mengikuti keteladanan Yesus dalam hidupnya yaitu semakin kudus dan benar, rendah hati, lemah lembut dan rela berkorban tanpa pamrih.
Kedua. Natal adalah suatu titik, dimana Allah datang untuk menyelesaikan masalah besar dalam hidup manusia. Masalah besar dalam diri manusia adalah Dosa yang membuat hubungan manusia dengan Allah rusak. Dosa, mengakibatkan manusia selalu mementingkan dirinya sendiri, sombong dan penuh kedagingan/hawa nafsu ; dan seandainya Yesus Kristus tidak datang, maka apa yang kita bangga-banggakan didunia ini, semuanya akan kita tinggalkan dibumi dan kita akan akhiri dalam hukuman kekal di Neraka. Tetapi syukur kepada Allah yang telah datang menjadi manusia, sehingga dapat mengampuni dosa kita dan menerima kita kembali apa adanya.
Ketiga. Natal adalah bukti kasih Allah. Kelahiran Yesus Kristus kedalam dunia adalah puncak dan bukti kasih Allah yang terbesar yang dianugerahkan kepada manusia. Itulah sebabnya setiap merayakan Natal, janganlah kita kehilangan Fokus. Fokus Natal adalah Kasih Kristus yang perlu dibagikan kepada orang lain. Tuhan ingin supaya setiap kali kita merayakan Natal, kita rayakan dengan hati yang damai, teduh dan penuh cinta kasih.
Kalau kita setuju bahwa Natal adalah Allah membuktikan kasihNya, apa bukti kasih kita kepadaNya …?
Doa kami :
Ya Tuhan Yesus, terima kasih Engkau datang dalam hati kami, yang membuat kami bersuka cita, karena Engkau menjadikan kami manusia Allah yang serupa dengan gambarMu. Amin
Persekutuan Doa Air Hidup: Pertobatan dan Pemulihan bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, agar mereka bisa menjadi berkat bagi gerejanya dan memberitakan Keselamatan dari Tuhan bagi mereka yang belum percaya kepadaNya.
Menjawab kasih Allah adalah kewajiban kita semua.Minimal dengan melakukan 4 hal yaitu : rajin berdoa,rajin bersaksi, rajin nbaca Alkitab dan rajin datang ke persekutuan.