"Rumah orang fasik akan musnah, tetapi kemah orang jujur akan mekar".(Amsal 14:11)Kejujuran bukanlah sesuatu yang murah dan mudah didapatkan. Di zaman sekarang ini dimana hidup menjadi semakin sulit, kejujuran menjadi sesuatu barang langka. Mengapa kejujuran menjadi barang langka ? Karena ketidak-jujuran sudah menjadi sesuatu hal yang biasa seperti tradisi dan juga karena beratnya tekanan ekonomi, maka ada banyak orang yang tidak mau berlaku jujur.
Namun bagi kita orang yang percaya kepada Yesus, hal demikian tidaklah boleh menjadi alasan untuk ikut-ikutan berlaku tidak jujur. Disinilah peran kita orang-orang kristen untuk tampil beda dengan dunia, yaitu dengan cara menjadi terang dan garam dunia, serta mencerminkan kebenaran kasih Ilahi ditengah-tengah dunia yang tidak jujur ini.
Ada seorang teman bersaksi. Suatu hari dia dengan teman-temannya mendapat ide untuk memanfaatkan sisa tanah kosong dikantor dimana mereka bekerja dengan maksud mereka menanam pohon yang dapat menghasilkan buah bisa dimakan. Disamping buahnya dapat dimakan, hal itu juga akan menambah kesejukkan ditempat mereka bekerja.
Setelah ide itu diusulkan kepada pimpinan, lalu singkat cerita ide tersebut disetujui. Mereka membeli beberapa pohon kepada tukang kebun. Setelah mereka menentukan pohon yang mereka beli dengan harga yang sepakat, maka teman itu minta bukti bon pembayaran. Tetapi Penjualnya berkata: Mas.. Pohon ini untuk siapa? Kalau untuk Perusahaan atau untuk boss, saya bisa buatkan bon yang lain, kan lumayan untuk orang yang sudah berlelah-lelah seperti sampeyan atau saya berikan bon kosong saja, nanti diisi sendiri angkanya.
Tetapi teman ini menjawab dengan tegas: Maaf ya pak, saya tidak biasa melakukan sesuatu yang tidak semestinya ; "saya sedang berlatih untuk selalu jujur" ; mudah-mudahan kalau banyak orang jujur datang ditempat ini, pohon-pohon disini cepat laku. Penjualnya hanya tersenyum saja ..!
Pernyataannya yaitu "Saya sedang berlatih untuk selalu jujur", mengandung arti bahwa kejujuran itu tidaklah didapatkan secara instan. Kejujuran itu harus ditanamkan, dilatih, dan latihannya adalah pada saat ada peluang/godaan untuk berbohong dan tidak ada orang yang mengetahui.
Kita dapat melihat hal ini dalam kisah Yakub yang pernah bertindak tidak jujur, dengan menyamar sebagai Esau dihadapan ayahnya. Sekalipun tindakan ini atas desakan ibunya, tapi mau tidak mau Yakub sudah terlibat dalam ketidak jujuran itu ; sehingga suatu saat dia juga mengalami perlakuan yang tidak jujur dari Laban, mertuanya.
Tidak ada penjelasan dalam Alkitab, apakah karena penipuannya yang dialaminya itulah yang membuat Yakub berubah menjadi orang jujur. Tetapi yang jelas adalah kepada Laban, Yakub memberanikan diri bahwa dia tidak berbohong dan itu terbukti.
Mungkin saat ini kita sedang tergoda untuk berkata/bertindak dengan tidak jujur, karena beratnya tekanan ekonomi atau karena keributan dalam rumah tangga misalnya, tetapi ingatlah bahwa apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai. Tuhan jijik melihat penipu, penumpah darah, Ia akan membinasakan orang yang berkata bohong.(Mazmur 5:7) Dan bukan hanya itu saja, kita perlu menyadari juga bahwa setiap perkataan dan pekerjaan kita yang kita lakukan, akan kita pertanggung jawabkannya dihadapan Tuhan nanti. (Matius 12:36 dan Roma 14:12)
Mungkin kita sedang putus asa, karena sulit untuk berkata/berlaku jujur, maka segeralah kita bangkit dan jangan menyerah, sebab kejujuran adalah sebuah proses latihan.
Dengan upaya dan setia untuk berlatih, maka yakinlah bahwa pada suatu saat kita akan menuai hasilnya. Apalagi kalau kita memegang janji Tuhan yang ditulis dalam nats diatas yaitu bahwa kemah orang jujur akan mekar, artinya masa depan kita akan cerah, usaha, pekerjaan dan kehidupan kita akan berhasil.
Doa kami:
Tuhan Yesus, didiklah kami supaya kami bisa berkata, bertindak jujur dalam hidup kami. Amin!
Namun bagi kita orang yang percaya kepada Yesus, hal demikian tidaklah boleh menjadi alasan untuk ikut-ikutan berlaku tidak jujur. Disinilah peran kita orang-orang kristen untuk tampil beda dengan dunia, yaitu dengan cara menjadi terang dan garam dunia, serta mencerminkan kebenaran kasih Ilahi ditengah-tengah dunia yang tidak jujur ini.
Ada seorang teman bersaksi. Suatu hari dia dengan teman-temannya mendapat ide untuk memanfaatkan sisa tanah kosong dikantor dimana mereka bekerja dengan maksud mereka menanam pohon yang dapat menghasilkan buah bisa dimakan. Disamping buahnya dapat dimakan, hal itu juga akan menambah kesejukkan ditempat mereka bekerja.
Setelah ide itu diusulkan kepada pimpinan, lalu singkat cerita ide tersebut disetujui. Mereka membeli beberapa pohon kepada tukang kebun. Setelah mereka menentukan pohon yang mereka beli dengan harga yang sepakat, maka teman itu minta bukti bon pembayaran. Tetapi Penjualnya berkata: Mas.. Pohon ini untuk siapa? Kalau untuk Perusahaan atau untuk boss, saya bisa buatkan bon yang lain, kan lumayan untuk orang yang sudah berlelah-lelah seperti sampeyan atau saya berikan bon kosong saja, nanti diisi sendiri angkanya.
Tetapi teman ini menjawab dengan tegas: Maaf ya pak, saya tidak biasa melakukan sesuatu yang tidak semestinya ; "saya sedang berlatih untuk selalu jujur" ; mudah-mudahan kalau banyak orang jujur datang ditempat ini, pohon-pohon disini cepat laku. Penjualnya hanya tersenyum saja ..!
Pernyataannya yaitu "Saya sedang berlatih untuk selalu jujur", mengandung arti bahwa kejujuran itu tidaklah didapatkan secara instan. Kejujuran itu harus ditanamkan, dilatih, dan latihannya adalah pada saat ada peluang/godaan untuk berbohong dan tidak ada orang yang mengetahui.
Kita dapat melihat hal ini dalam kisah Yakub yang pernah bertindak tidak jujur, dengan menyamar sebagai Esau dihadapan ayahnya. Sekalipun tindakan ini atas desakan ibunya, tapi mau tidak mau Yakub sudah terlibat dalam ketidak jujuran itu ; sehingga suatu saat dia juga mengalami perlakuan yang tidak jujur dari Laban, mertuanya.
Tidak ada penjelasan dalam Alkitab, apakah karena penipuannya yang dialaminya itulah yang membuat Yakub berubah menjadi orang jujur. Tetapi yang jelas adalah kepada Laban, Yakub memberanikan diri bahwa dia tidak berbohong dan itu terbukti.
Mungkin saat ini kita sedang tergoda untuk berkata/bertindak dengan tidak jujur, karena beratnya tekanan ekonomi atau karena keributan dalam rumah tangga misalnya, tetapi ingatlah bahwa apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai. Tuhan jijik melihat penipu, penumpah darah, Ia akan membinasakan orang yang berkata bohong.(Mazmur 5:7) Dan bukan hanya itu saja, kita perlu menyadari juga bahwa setiap perkataan dan pekerjaan kita yang kita lakukan, akan kita pertanggung jawabkannya dihadapan Tuhan nanti. (Matius 12:36 dan Roma 14:12)
Mungkin kita sedang putus asa, karena sulit untuk berkata/berlaku jujur, maka segeralah kita bangkit dan jangan menyerah, sebab kejujuran adalah sebuah proses latihan.
Dengan upaya dan setia untuk berlatih, maka yakinlah bahwa pada suatu saat kita akan menuai hasilnya. Apalagi kalau kita memegang janji Tuhan yang ditulis dalam nats diatas yaitu bahwa kemah orang jujur akan mekar, artinya masa depan kita akan cerah, usaha, pekerjaan dan kehidupan kita akan berhasil.
Doa kami:
Tuhan Yesus, didiklah kami supaya kami bisa berkata, bertindak jujur dalam hidup kami. Amin!
Persekutuan Doa Air Hidup: Pertobatan dan Pemulihan bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, agar mereka bisa menjadi berkat bagi gerejanya dan memberitakan Keselamatan dari Tuhan bagi mereka yang belum percaya kepadaNya.
Setuju tiap hari kita harus berlatih kejujuran, hidup kudus,sabar dan terutama mengasihi.Semuanya sulit tapi itulah kehidupan orang Kristen ditengah masyarakat.Orang Kristen harus berani tampil beda.